Bagian 37.


Niat hati ingin berkeliling supaya semakin yakin untuk bergabung dengan klub teater kebanggaan kampus, tetapi seorang pemuda bernama Book Kasidet justru mematung di hadapan sang kakak tingkat yang sibuk bermesraan dengan koor talent.

'Dunia milik berdua, yang lain ngontrak,' batin Book. Bibirnya sudah maju satu senti, tetapi dua sejoli di hadapannya total melupakan soal eksistensi sang adik tingkat.

Sepasang matanya melirik kesana-kemari, berharap jika Fluke cepat datang menghampiri. Sebenarnya, Ia bisa saja menegur Kak Gun dan Kak Jumpol. Namun, entah mengapa rasanya tidak enak. Dilihat-lihat, interaksi dua sejoli ini sangat menggemaskan walaupun dirinya kini kebingungan setengah mati tentang hal apa yang harus dia lakukan.

Di tengah kebingungannya, tiba-tiba sepasang tangan menyentuh kedua bahunya. Book sedikit terlonjak dan lekas berbalik, siap untuk memarahi sosok yang mengejutkannya itu. Pasti itu Fluke Pusit!

Namun, rentetan kalimat yang akan dilontarkannya mendadak tertelan begitu saja ketika Ia mendapati eksistensi orang yang cukup asing baginya tengah tersenyum ramah.

“Eh, maaf. Kaget, ya?”

Book nyaris tidak berkedip. Lelaki itu, senyumnya, senyumnya pasti akan selalu mampir di setiap mimpi Book. Entah siang atau malam. Tampan. Tampan sekali. Ia terdiam, sibuk memuja dalam hati. Apalagi ketika melihat lelaki itu terbalut kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

Tangan lelaki itu melambai di depan wajahnya, “Halo?”

Seolah ditarik kembali pada kenyataan, Book buru-buru berkedip dan mengangguk dengan canggung. “Halo…”

Lelaki itu tertawa.

Tuhan. Apakah lelaki ini merupakan seorang pangeran yang datang dari atas langit? Book mengepalkan tangannya, berusaha untuk menulikan telinganya dari alunan tawa lelaki itu. Tawanya mengundang euforia dalam tubuh Book, membuatnya ingin tertawa karena ikut bahagia dan menangis karena terlalu terpesona.

“Lucu banget. Maaf ya, tadi bikin kaget. Gue Force Jiratchapong, asisten sutradara Rhetorical. Gue denger dari Kak Atthaphan kalau lo mau keliling klub,” ujarnya seraya melirik ke arah sofa yang terdapat di sudut ruangan. “Tapi, kayaknya dia enggak bisa nemenin lo keliling karena sibuk memadu kasih. Jadi, gue aja yang temenin, ya?”

Book menggigit pipi bagian dalamnya. Mencoba untuk tidak terlalu terlihat salah tingkah, walaupun begitulah kenyataannya. Padahal lelaki bernama Force itu hanya menyapa dan mengajaknya dengan ramah.

“Boleh… Kalau enggak ngerepotin.” Ucap Book dengan suara yang nyaris seperti bisikan, untung saja ruang klub teater tidak terlalu ramai sehingga Force masih bisa mendengar suara calon anak emas Rhetorical itu.

“Sama sekali enggak,” sahut Force dengan cepat. Tangannya terjulur ke depan, meminta sambutan dari lawan bicaranya. “Kayaknya kurang kalau belum jabat tangan. Kenalin lagi, gue Force Jiratchapong.”

Dengan perasaan campur aduk, Book menyambut uluran tangan Force dan jantungnya bertalu-talu dengan cepat ketika lelaki itu menggenggam tangannya dengan erat. Padahal hanya sekadar jabat tangan, bukan yang benar-benar saling menggenggam.

“Book Kasidet, dari prodi Bahasa Inggris. Temannya Fluke Pusit.” Ujar Book dengan cepat supaya mereka tidak terlalu lama berjabat tangan.

Force tertawa, lagi.

Tuhan, bisakah Engkau buat makhluk ciptaan-Mu yang satu ini berhenti tertawa untuk sejenak. Sungguh tawanya membuat dunia Book seolah berputar layaknya Roller Coaster.

“Kalau kata Pusit, lo itu yang si paling lucu, ya? Beneran lucu ternyata.” Ucap Force. Entah betulan atau hanya basa-basi. Sel otak Book seolah berhenti bekerja selama beberapa saat. “Yuk, gue temenin keliling sekarang. Bentar lagi konsum makan siang datang. Nanti kita makan bareng.”

Entah Book harus protes pada Kak Gun nanti karena kakak tingkatnya itu sibuk bermesraan dengan sang kekasih atau justru dirinya harus mengucapkan terimakasih karena telah dipertemukan oleh Force.