Bagian 61.


Seperti apa yang telah diperkirakan oleh Mix sebelumnya, kini Book sibuk merengek ketika Fluke mencubiti pipinya dengan gemas tepat setelah Book mengatakan alasan tentang mengapa Ia melamun sampai 15 menit dan menatap ponselnya.

“Force? Force Jiratchapong, ya? Udah enggak naksir sama Gawin Caskey lagi?” Goda Fluke seraya menaik turunkan alisnya ketika Book berhasil melepaskan kedua tangan Fluke dari wajahnya.

“Gue enggak naksir Gawin!” Protes Book, sepasang kakinya menghentak kecil di atas lantai. Fluke tertawa terbahak-bahak, lalu tangannya terangkat untuk merapikan rambut sahabatnya yang dibuat berantakan tadi. “Iya iya, ampun. Udah gede ya si paling lucu.”

Book merengut, tetapi tidak protes. Baik Fluke ataupun Mix, keduanya tidak akan pernah berhenti untuk menatapnya sebagai sosok anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Book sudah terbiasa akan hal itu, lagipula mereka berdua adalah orang terdekatnya.

Mix seolah hidup di dunianya sendiri, sibuk mengunyah popcorn kemasan dan menonton tayangan film di televisi. Book menceritakan semuanya, tentang apa yang terjadi ketika Book menjejakkan sepasang kakinya di klub teater, bertemu seorang lelaki bernama Force, dan tiba-tiba mendapatkan pesan dari lelaki itu entah darimana Ia mendapatkan nomornya.

“Oh, gue baru inget kemarin Namtan minta nomor lo,” ujar Fluke ketika suasana mulai kondusif. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa sembari lengan kirinya merangkul pundak Book. “Katanya sih mau ngomongin sesuatu. Mungkin, Force yang disuruh buat ngomong karena udah ngobrol duluan sama lo.”

Book mengangguk setuju, menyamankan posisinya dalam rangkulan Fluke. “Iya, mungkin… Tapi, tetep aja gue kayak aneh. Gue yang aneh. Coba dengar, kayaknya gue harus dibawa ke rumah sakit.”

Sahabatnya itu tertawa lagi ketika Book meraih tangan Fluke untuk diletakkan tepat di atas dadanya, tepat dimana jantungnya berdetak dengan kencang.

“Lo beneran jatuh cinta, ya.”

Mix menoleh, melepaskan pandangannya dari film yang sejak tadi Ia tonton. “Lo lihat, dia jatuh cinta selucu ini. Coba aja kalau Force tau.”

“Don't you dare to let him know!” Seru Book, sepasang matanya melotot. Memberikan tatapan seolah Ia sedang marah besar, tetapi justru Mix tertawa. “Lo tenang aja sih, I will keep my mouth shut. Enggak tau kalau yang di sebelah lo itu.”

Book lekas melirik ke arah Fluke yang kini mengangkat bahunya seolah Ia tidak tahu apapun. “Lihat, ada resletingnya.” Fluke menggerakkan tangannya di depan mulut, membuat gestur seolah-olah Ia sedang menutup resleting. “Well, I guess Force is the luckiest guy for being your first love.

Mix mengangguk setuju kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada film yang masih berputar.

Fluke masih tertawa kecil, memperhatikan Book yang wajahnya masih terlihat bingung. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mendorong pelam dahi Book dengan telunjuknya. “Enggak usah terlalu dipikirin, lah. Jatuh cinta itu bukan perkara yang besar. Just let it flow, love takes time. Jodoh enggak akan kemana.”

Book menghela nafas panjang kemudian mengangguk sebelum menoleh ke arah Fluke, menatap sahabatnya itu dengan penuh tanda tanya.

“Fluke jago banget, deh. Emangnya pernah jatuh cinta?”

“Ya pernah lah, emangnya lo. Lo tuh juga masih bayi kok udah cinta-cintaan.”

“Jelek!”