Bagian 71.


“Oh, jadi nanti gue enggak perlu nganterin lo pulang dulu karena lo mau ketemu sama Force?”

Book sontak memukul lengan atas Fluke dan memberikan tatapan kesal sebelum melirik ke sekitarnya. “Jangan keras-keras nanti ada yang dengar!”

Yang dipukul hanya mengaduh, pura-pura kesakitan dan tertawa setelahnya. Fluke melepas helmnya dan meletakkannya di atas spion motor sebelum tangannya berpindah untuk membantu Book melepas helmnya.

“Emangnya lama, ya? Kalau lama nanti baliknya bareng gue aja gapapa,” Fluke meletakkan helm milik Book di bagian belakang motornya. “Gue nanti biasa lah di klub. Samperin aja.”

Book bergumam sesaat, lalu mengetukkan jari telunjuknya di dagu. “Sebenernya, gue enggak tau dia mau ngomongin apa. Paling tentang Rhetorical.”

Fluke mengangguk mengerti kemudian mengulurkan tangannya untuk membetulkan letak rambut Book yang sedikit berantakan setelah Ia melepas helmnya. Sementara Book sibuk bergumam, menebak-nebak apa sekiranya akan Force bicarakan nanti. Fluke hanya tertawa kecil mendengar gumaman sahabatnya itu.

“Ya ya ya, keep guessing, then,” Fluke lekas merangkul bahu Book dan sedikit menyeretnya untuk berjalan ke arah gedung fakultas mereka. “Mending sekarang kita masuk sebelum Mix ngomel-ngomel.”

“Fluke bawel!”


Di sisi parkiran yang berseberangan dengan tempat dimana Fluke memarkirkan motornya, dua orang pemuda sibuk memandangi sepasang sahabat itu semenjak mereka datang.

Sebenarnya, tidak ada niat untuk memandangi orang lain diam-diam, tetapi semua ini hanya kebetulan. Rasa penasaran itu memang seharusnya cepat-cepat dipuaskan, bukan?

“Jadi, menurut lo gimana, Boom?”

Boom mengangkat alisnya dan melirik ke arah pemuda di sampingnya, Force. Lelaki itu enggan melepaskan pandangannya dari Fluke dan Book sedikitpun.

“Menurut gue gimana apanya?” Boom menjawab pertanyaan temannya dengan pertanyaan lain. “Menurut gue mereka berdua berangkat bareng.”

Force berdecak kesal, lalu dengan sengaja menendang pelan betis Boom. Pemuda itu mengaduh dan melempar satu umpatan dengan berbisik pada Force.

Entah apa yang merasuki temannya itu. Force bukanlah tipikal orang yang suka berlama-lama di parkiran hanya untuk memandangi orang lain atau mengobrol. Namun, pagi ini mereka mendapati dua sosok yang menjadi objek obrolan mereka kemarin.

Boom tidak sepayah itu untuk tidak mengerti maksud dari pertanyaan Force. Topik pembicaraannya pasti masih sama; tentang apakah hubungan Book dengan Fluke itu sesuatu yang platonik atau romantik?

Bagi Boom yang dapat julukan Paling Tahu Segalanya dari Milk, tentu saja Ia tahu jika Book dan Fluke tidak lebih dari sepasang sahabat dekat. Lagipula, Ia telah mengatakan hal ini kepada Force sebelumnya. Entah mengapa temannya yang menjabat sebagai asisten sutradara Rhetorical itu masih tidak yakin.

“Lihat deh, helmnya dilepasin terus rambutnya dirapihin begitu.” Ujar Force, menarik lengan Boom mendekat dan menyuruh lelaki itu untuk turut memperhatikan apa yang tengah Ia perhatikan. “Backstreet kali, ya?”

Boom tertawa seraya memukul pelan jok motor Force. “Lo kenapa, sih, tiba-tiba jadi kepo banget sama mereka?”

Force terdiam sesaat dan menggerakkan bola matanya kesana-kemari. Memikirkan alasan yang tidak pernah Ia pikirkan sebelumnya. Entah Ia hanya sekadar ingin tahu tentang kehidupan calon anggota baru Rhetorical itu atau adakah alasan lain di baliknya?

“Lo tau 'kan kalau Bang Tawan nitipin Book ke gue soalnya Book pasti bakalan canggung kalau sama Bang Tawan. Gue takutnya kalau misal mereka beneran pacaran, nanti Fluke cemburu sama gue gimana?”

Boom mengangguk, berpikir jika alasan Force cukup masuk akal walaupun dirinya sedikit berharap ada alasan lain sehingga Ia memiliki banyak topik untuk mengerjai temannya.

“Ya gapapa kali. Orang backstreet pasti bakalan go public. Apalagi kalau punya pacar kayak Book Kasidet, masa iya mau backstreet terus. Kalau gue mah ya gue pamerin.” Boom mengutarakan pendapatnya seraya menatap sosok Fluke dan Book yang berjalan menjauh dari parkiran. “Udah ah, gue lapar. Cari sarapan dulu, yuk!”

Tanpa Boom sadari, Force mengangguk setuju dengan pendapat pemuda itu. 'Kalau gue punya pacar kayak Book juga bakalan gue pamerin ke seluruh dunia, ucapnya dalam hati.